Kamis, 08 November 2012


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.            Latar Belakang
Perkembangan rekayasa teknologi dalam bidang teknik sipil pada saat ini terasa begitu cepat, baik dalam bidang rekayasa struktur, manajemen, maupun teknologi bahan. Beton merupakan salah satu unsur yang sangat penting mengingat fungsinya sebagai salah satu elemen pembentuk struktur yang paling banyak di gunakan, hal ini di sebabkan karena sistem kontruksi beton mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan bahan lain. Misalnya mempunyai kuat tekan tinggi, dapat mengikuti bentuk bangunan secara bebas, tahan terhadap api dan biaya perawatannya relatif murah.
Beton bermutu tinggi dan berkinerja tinggi saat ini merupakan material bangunan yang sudah banyak di gunakan dalam pelaksanaan struktur bangunan modern disebabkan oleh adanya kebutuhan kinerja structural yang tinggi pada bangunan tersebut baik pada keadaan layanan servis, keadaan batas (ultimate), maupun keawetanya (durability) secara jangka panjang.
Industri kontruksi di Indonesia berkembang dengan pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional, kemajuan tersebut perlu di imbangi dengan penyediaan bahan bangunan alternatif, seperti beton ringan karena beton memiliki berbagai keunggulan diantaranya mempunyai kuat tekan tinggi, tahan cuaca, tahan haus, perawatan rendah serta harga relatif murah. Kelemahan beton adalah kuat tarik rendah, terjadi pengembangan dan penyusutan saat perubahan suhu, getas serta sulit kedap air secara sempurna.
Pada dasarnya beton merupakan salah satu bahan bangunan yang memiliki kemampuan untuk menahan daya tekan.Namun beton tidak memiliki kemampuan untuk menahan gaya tarik , sehingga membutuhkan bantuan dari bahan bangunan lainnya yang memiliki kemampuan menahan gaya tarik , yaitu baja tulaangan.  Oleh karena itu , untuk mengantisipasi tegangan tarik maupun tengangan  tekan yang terjadi secara bersamaan pada balok lentur , maka balok beton yang mengalami lenturan tersebut perlu diberikan baja tulangan pada bagian yang mengalami tegangan tarik. struktur yang demikian yang dinamakan struktur beton  bertulang.
1.2.            Tujuan
Tujuan diadakannya praktek ini, diharapkan agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek pengujian bahan dengan baik dan  mengikuti prosedur dari instruktur dan teknisi lapangan
2.      Mengetahui  kadar air, berat isi, berat jenis,
3.      Menghitung jumlah campuran beton yang baik
4.      Mengetahui apa saja alat dan bahan  yang digunakan pada proses Uji Laboratorium Beton.
5.      Mengetahui kegunaan alat-alat Laboratorium yang di gunakan.
6.      Mengetahui formula perencanaan campuran beton.
7.      Mengetahui kuat tekan kubus beton yang telah dibuat.


1.3.            Waktu dan Lokasi Pelaksanaan

Praktek pengujian bahan (beton) dilaksanakan selama satu minggu pada tanggal 9 juli sampai 17 juli 2012
Adapun tempat pelaksanaan praktek uji beton laboratorium yaitu di laksanakan di laboratorium Teknik Sipil Politeknik Negeri Pontianak.










BAB II
DASAR TEORI

2.1.      Pengertian

      Beton ialah merupakan suatu benda padat yang didapatkan dari pencampuran bahan-bahan agregat kasar dan agregat halus, yaitu pasir, batu pecah/kerikil atau bahan-bahan semacam lainnya, kemudian dicampur dengan bahan pengikat semen dan air sebagai bahan pembantu guna proses pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Nilai kekuatan serta daya tahan (durability) beton tergantung dari banyak faktor, diantaranya ialah nilai banding campuran, mutu bahan susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur dan kondisi perawatannya.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan dengan nilai kuat tariknya dan beton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai kuat tariknya sekitar 9%-15% saja dari kuat tekannya pada penggunaan sebagai komponen struktural bangunan, umumnya beton diperkuat dengan bahan tulang baja sebagai bahan yang dapat bekerjasama dan mampu membantu kelemahannya, terutama pada bagian yang menahan gaya tarik (Djokohusodo, 1.,1999).
Persyaratan umum untuk campuran beton yang digunakan dalam melaksanakan konstruksi beton adalah sebagai berikut:
  1. Persyaratan kekuatan
  2. Persyaratan keawetan
  3. Persyaratan kemudahan pengerjaan
  4. Persyaratan ekonomis


Beton dapat dibedakan berdasarkan berat jenisnya. Ada tiga berat jenis beton yaitu: beton ringan, beton normal dan beton berat.
  1. Beton ringan,beton yang mempunyai berat jenis sampai 1,850 kg/m3
  2. Beton normal, beton yang mempunyai berat jenis antara 1,850-2,500 kg/m3
  3. Beton berat, beton yang mempunyai berat jenis lebih besar dari 2,500 kg/m3 (Departemen Pekerjaan Umum, 1990)
Parameter-parameter yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah:
  1. Kwalitas semen
  2. Proporsi semen terhadap campuran
  3. Kekuatan dan kebersihan agregat
  4. Interaksi atau adhesi antara pasta semen dengan agregat
  5. Pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk beton
  6. Penempatan yang benar, penyelesaian pemadatan beton
  7. Perawatan beton dan kandungan klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton yang diekspos dan 1% bagi beton yang tidak diekspos (nawy,1985:24).










2.2.      Isi Campuran Beton
Beberapa isi campura beton, seperti :
2.2.1        Semen
Semen ialah suatu jenis bahan yang berfungsi sebagai bahan perekat atau pengikat agregat kasar, agregat halus dan air menjadi satu kesatuan. Semen yang biasa digunakan adalah semen portland (ordinary portland cemen), yaitu semen hidrolis yang mengeras apabila dicampur dengan air. Semen portland merupakan bubuk halus yang dibuat dari bahan baku berupa campuran (CaO), silika (SiO2), alumina (AL2O3) yang digiling bersama bahan tambahan yang lainnya (nawy, E, 1998).
Klasifikasi semen menurut ASTM dibagi menjadi 5 (lima) tipe yaitu:
  1. Semen tipe I
Semen portland standar digunakan untuk semua bangunan beton yang tidak akan mengalami perubahan cuaca yang dasyat, untuk penggunaan umum, serta tidak memerlukan persyaratan khusus.
  1. Semen tipe II
Untuk bangunan yang menggunakan pembetonan secara massal seperti dam, panas hidrasi tertahan dalam bangunan untuk jangka waktu lama. Pada saat terjadi pendinginan timbul tegangan-tegangan akibat perubahan panas yang akan menyebabkan retak-retak pada bangunan. Untuk mencengah hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, dibuatlah jenis semen yang mengeluarkan panas hidrasi lebih rendah serta dengan kecepatan penyebaran panas yang rendah pula, semen tipe II ini merupakan semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas hidrasi sedang dan disebut juga “modified portland cemen”. Semen ini menimbulkan 15%-20% lebih sedikit panas dibandingkan dengan semen tipe I.
  1. Semen tipe III
Semen portland tipe III adalah jenis semen yang cepat mengeras dan cocok untuk pengecoran beton pada suhu rendah, butiran –butiran semennya digiling lebih halus dari butiran-butiran tipe I untuk mempercepat proses hidrasi yang diikuti dengan percepatan pengersan serta percepatan pengembangan kekuatan. Semen ini disebut juga “semen dengan kekuatan awal tinggi” digunakan bilamana kekuatan harus dicapai dalam waktu yang singkat. Semen tipe III ini menimbulkan panas sampai 50% lebih banyak pada umur rendah dibandingkan dengan semen tipe I.
  1. Semen tipe IV
Semen portland tipe IV ini menimbulkan panas hidrasi rendah, hal ini menunjukkan bahwa semen tipe demikian panas 40-50% selama sedang terjadi proses hidrasi pada umumnya 1-7 hari dibandingkan dengan panas yang ditimbulkan oleh tipe I. Semen tipe IV ini digunakan untuk kondisi dimana kecepatan dan jumlah panas yang timbul harus minimum misalnya pada bangunan masih seperti bendungan gravitasi yang besar.
  1. Semen tipe V
Semen portland tipe V ini tahan terhadap serangan sulfat digunakan di daerah-daerah pasang surut pada bangunan-bangunan beton di laut juga menimbulkan panas 25-40% lebih kecil dari pada semen tipe I.
Pengerasan pasta semen berlangsung terus menerus, mula-mula secara cepat kemudian lebih lambat untuk jangka waktu yang lama. Pengikat harus terus menerus berlangsung dengan lambat, sebab jika tidak demikian adukan semen akan sukar dikerjakan. Oleh karena itu spesifikasi-spesifikasi untuk semen masyarakat bahwa awal pengikatan dari pasta semen tidak boleh terjadi kurang dari 1 jam setelah kita membubuhkan air pada semen. Pada umumnya waktu pengikatan adukan beton sekarang ini berlangsung lebih lama kira-kira 3-5 jam.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi waktu pengikat awal dari semen yaitu;
1.      Umur semen
Selama semen itu disimpan untuk jangka waktu yang lama semen itu akan menghisap air dan zat asam arang dari udara, sehingga terjadi prahidrasi sebagai akibatnya daya pengikatnya akan menjadi lambat, sedangkan kekuatan tekannya akan berkurang.
2.      Suhu
Kecepatan suatu reaksi kimia tergantung pada suhu dari massa yang bereaksi serta suhu lingkungannya. Reaksi antara semen dan air berlangsung lebih cepat pada suhu yang tinggi (misalnya perawatan dengan uap), akan tetapi untuk proses pengikatan suhu yang paling rapat kira-kira 23oC.
3.      Jumlah air yang dibutuhkan
Agar reaksi kimia antara semen dan air berlangsung dengan memuaskan dibutuhkan air kira-kira 20% air dari berat semen. Dalam adukan beton yang memerlukan lebih banyak air, panas hidrasi akan timbul disebarkan dengan meluas pada bahan-bahan agregat yang lainnya, sehingga suhu pada saat terjadinya pengikatan akan jauh lebih besar dari pada suhu pada waktu terjadi pengikatan hanya antara air dan semen sehingga waktu pengikatan pada adukan beton akan berlangsung lebih lama.
2.2.2        Agregat
Agregat merupakan bahan penyusun beton yang paling berperan dalam menentukan nilai kuat tekan beton. Pada beton biasanya terdapat sekitar 60-70% volume agregat, agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen dan rapat, dimana agregat yang berukuran kecil berfungsi sebagai pengunci celah yang ada diantara agregat yang berukuran besar.
Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan, kerikil, pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan, yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen, porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu pada musim dingin dan agresi kimia, serta ketahanan terhadap penyusustan.
Mengingat bahwa agregat menempati sekitar 70-75 persen dari total volume beton maka kualitas agregat sangat berpengaruh terhadap kualitas beton. Dengan angregat yang baik, beton dapat dikerjakan (workable), kuat, tahan lama (durable) dan ekonomis. Pengaruhnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


Tabel . Pengaruh sifat agregat pada sifat beton
Sifat agregat
Sifat beton
Bentuk, tekstur gradasi
Beton cair
Kelecakan, Pengikatan dan pengerasan
Sifat fisik, sifat kimia, mineral
Beton keras
Kekuatan, kekerasan, ketahanan (durability)
Sumber : Paul Nugraha, Antoni. Teknologi Beton halaman 43
1.      Agregat Halus(Pasir):
          Pasir adalah bahan batuan halus yang terdiri dari butiran dengan ukuran 0,14-5 mm, yang didapat pelapukan batuan secara alami atau dengan cara memecahnya.
2.      Agregat Kasar (Kerikil / batu Pecah):
          Agregat kasar dibedakan atas 2 macam, yaitu krikil (dari batuan alam) dan kricak (dari batuan alam yang dipecah). Menurut asalnya krikil dapat dibedakan atas; krikil galian, krikil sungai dan krikil pantai. Krikil galian baisanya mengandung zat-zat seperti tanah liat, debu, pasir dan zat-zat organik. Krikil sungai dan krikil pantai biasanya bebas dari zat – zat yang tercampur, permukaannya licin dan bentuknya lebih bulat. Hal ini disebabkan karena pengaruh air. Butir-butir krikil alam yang kasar akan menjamin pengikatan adukan lebih baik. Batu pecah (kricak) adalah agregat kasar yang diperoleh dari batu alam yang dipecah, berukuran 5-70 mm. Panggilingan/pemecahan biasanya dilakukan dengan mesin pemecah batu (Jaw breaker/ crusher).
1.      Jaw crusher, yaitu terdiri dari satu atau lebih rang (jaw) yang memukul sebuah rahang tetap. Jarak dan panjang gerakan menentukan ukuran butiran batu yang dihasilkan. Sendi (toggle) tunggal untuk batuan yang lebih lunak sedangkan sendi ganda untuk yang lebih keras.




  1. Gyratory crusher, yaitu terdiri dari kepala crusher digoyang oleh eksentrisitas pada shaft miring yang berputar.
  2. Disk crusher, yaitu terdiri dari satu stasioner dan satu berputar berbentuk piring membuka dan menutup.
  3. Hammer atau Impact crusher.
  4. Roll crusher, yaitu memasukkan material diantara roll yang permukaannya bergerigi.
  5. Rod mill, yaitu menggantikan roll crusher untuk mengurangi butir halus, lebih ekonomis dan produk lebih seragam.
Ada bermacam-macam jenis batu-batuan bilamama dipecah yang dapat dimanfaatkan untuk digunakan sebagai agregat beton, misalnya
  1. Batu Kapur ialah batuan hasil sedimentasi yang komposisi utamanya ialah kalsium karbonat. semakin keras dan padat jenis kapir ini, terutama jenis ferro karbonat yang dijumpai didaerah Derbyshire dan Mendips, makin cocok sekali untuk pembuatan beton.
  2. Batu Api yaitu meliputi granit, basalt, dolerit, gabbros dan phorphyres. Granit merupakan batu yang keras, ulet dan padat yang sangat baik untuk beton. Basal merupakan batu api yang menyerupai batu granit, tetapi struktur butirnya lebih halus karena pendinginan yang cepat pada proses pembentukannya. Dolerit yaitu mempunyai struktur butir kristal yang halus yang mengandung felspar banyak dan bahan lain seperti augite, olivine dan granit
  3. Sandstone yaitu keras dan padat, hampir semua sandstone cocok untuk agregat. Yang terbaik ialah yang mempunyai komposisi butriran quartz yang terikat oleh oksida besi yang terhidrasi atau amorphous silica.
  4. Batu Tulis, biasanya agregat ini tidak baik, lunak, lemah, berlapis,




v  Ditinjau dari asalnya
            Pada  dasarnya agregat aduk dan beton didapat dengan dua cara :
a.       Agregat Alam
Agregat alam umumnya menggunakan bahan baku batu alam atau hasil penghancurannya. Batu alam yang baik untuk agregat adalah batuan beku.
Agregat alam dapat dibedakan atas tiga kelompok :
  1. Kerikil dan pasir alam
Merupakan hasil penghancuran oleh alam dari batuan induknya, terdapat dekat atau jauh dari asalnya, karena terbawa oleh arus air atau angin dan mengendap di suatu tempat.
  1. Agregat batu pecah
Agregat batu pecah dibuat dari batuan alam yang dipecah.
  1. Agregat batu apung
Batu apung merupakan agregat alamiah yang ringan dan umum digunakan. Penggunaan batu apung harus bebas dari debu vulkanis halus dan bahan-bahan yang bukan vilkanis, misalnya lempung.
b.      Agregat Buatan
Agregat buatan adalah agregat yang dibuat dengan tujuan penggunaan tertentu atau karena kekurangan agregat batuan alam. Agregat buatan dibuat adalah agregat ringan. Berikut adalah beberapa contoh agregat buatan :
1.      Klinker dan breeze
Agregat ini banyak dipergunakan selama bertahun-tahun untuk memproduksi blok dan pelat untuk partisi atau penyekat dalam dan tembok interior lainnya.Sumber utama agregat jenis ini adalah stasiun pembangkit tenaga dimana ketel uap dipanasi dengan bahan bakar padat.
2.      Agregat yang berasal dari bahan-bahan yang mengembang
Agregat ini dibuat dari tanah liat biru jenis khusus, diproses, kemudian  mengembang jika dipanaskan. Bahan yang dihasilkan terdiri atas butiran bulat, keras, kulit padat tetapi bagian dalam keropos. Bahan yang bersisi tajam dapat diperoleh dengan memecah butiran-butiran yang terlalu besar.
3.      Coke breeze
Coke breeze adalah hasil tambahan dari sisa bakaran bahan bakar batu arang yang kurang sempurna pembakarannya, dan biasanya terdapat ada dapur-dapur rumah tangga di negara Eropa.
4.      Hydite
Agregat ini terbuat dari tanah liat (shale) yang dibakar dalam dapur berputar, pada suhu tinggi. Sehingga bahan akan membengkak. Hasilnya merupakan bongkahan tanah yang mengembang  dan hampir leleh, lalu  dihancurkan dan diayak hingga mencapai susunan butir yang diperlukan.
5.      Lelite
Lelite dibuat dari batu metamorf  atau shale yang mengandung senyawa karbon. Bahan dasarnya dipecah kecil-kecil, kemudian dibakar  dalam dapur vertikal pada suhu (± 1550°C). Pada suhu ini butiran mengembang,terkumpul didasar dapur berupa lempeng-lempeng, kemudian lempeng ini dibuat bahan tambah dengan memecah dan mengayak untuk mendapatkan butiran agregat yang diinginkan.
v  Ditinjau Dari Berat jenisnya.
Ditinjau dari berat jenisnya, agregat diibedakan atas tiga macam :
1.      Agregat ringan
Agregat ringan yaitu agregat yang memiliki berat jenis kurang dari 2,0 (berat sendiri yang rendah, sehingga strukturnya ringan)  digunakan untuk beton non struktural. Agregat ini dapat juga digunakan  untuk beton struktural atau blok dinding tembok.,contohnya agregat batu apung, hydite,rocklite,lelite,dsb.
2.      Agregat normal
Agregat normal adalah agregat yang memiliki berat jenis antara 2,5 sampai 2,7. Agregat ini berasal dari batuan granit, basalt,kuarsa dsb, beton yang dihasilkan dinamakan beton normal.



3.      Agregat berat
Agregat berat memiliki berat jenis lebih dari 2,8. Contoh agregat ini : magnetik (Fe3O4) dan barytes (BaSO4), atau serbuk besi. Beton yang dihasilkan memiliki berat jenis yang tinggi juga (dapat sampai 5,0). Beton jenis ini efektif digunakan sebgai dinding pelindung sinar radiadsi sinar X.
v  Ditinjau dari bentuknya
Agregat alam maupun batu pecah dapat mempunyai berbagai bentuk butiran.  yaitu
1.      Bulat
Umumnya agregat jenis ini berbentuk bulat atau  bulat telur. Pasir kerikil jenis ini biasanya berasal dari sungai atau pantai dan mempunyai rongga udara minimum 33%. Agregat seperti ini tidak cocok untuk beton mutu tinggi maupun perkerasan jalan raya.
2.      Bersudut
Bentuk ini tidak beratruran, mempunyai sudut-sudut yang tajam dan permukaannya kasar, Yang termasuk jenis ini adalah batu pecah semua jenis, yaitu hasil pmecahan dengan mesin dari berbagai jenis batuan.Agregat ini baik untuk membuat beton mutu tinggi maupun lapis perkerasan jalan.
3.      Pipih
Agregat pipih ialah agregat yang memiliki perbandingan ukuran terlebar dan tertebal pada butiran itu lebih dari 3. Agregat jenis ini berasal dari batu-batuan yang berlapis.
4.      memanjang
Butir Agregat dikatakan memanjang (lonjong) jika perbandingan ukuran yang terpanjang (terbesar) dan terlebar lebih dari 3
v  Ditinjau dari Tekstur Permukaan
Jika ditinjau dari tekstur permukaannya agregat dapat dibedakan atas :
1.      Agregat dengah permukaan seperti gelas, mengkilat,
  Contohnya : flint hitam, obsidian
2.      Agregat dengan permukaan kasar
   Umumnya berupa pecahan batan, permukaan tampak kasar tampak jelas bentuk     kristalnya. Contohnya jenis ini, misalnya basalt, felsite, prophyry, batu kapur

3.      Agregat dengan permukakan licin
   Agregat ini ditemukan pada batuan yang butiran-butirannya kecil (halus), contohnya kerikil sungai, chart, batu lapis, marmer dan beberapa rhyolite
4.      Agregat dengan permukaan berbutir
   Pecahan dari batuan ini menunjukan adanya butir-butir bulat yang merata, misalnya batuan pasir, colite
5.      Agregat berpori dan berongga
   Batuan ini mempunyai pori dan rongga yang mudah terliat. Contohnya batu apung, batu klinker, tanah liat yang dikembangkan dan batuan dari lahar gunung merapi.
v  Ditinjau dari Besar Butirannya
Ditinjau dari besar butirannya, maka agregat dapat dibedakan menjadi 3 :
1.      Agregat halus
Agregat halus adalah agregat yang butirannya menembus ayakan 4,8 mm terdiri dari 3 jenis yaitu :
a.       Pasir galian
Pasir ini diperoleh langsung dari permukaan tanah, atau dengan cara menggali dari dalam tanah.
b.      Pasir sungai
Pasir ini diperoleh langsung dari dasar sungai
c.       Pasir laut
Pasir ini adalah pasir yang diambil dari pantai
2.      Agregat kasar
Agregat kasar adalah  agregat dengan butiran-butiran tertinggal di atas ayakan dengan lubang 4,8, tetapi lolos ayakan 40 mm
3.      Batu
Batu adalah agregat yang besar butirnya lebih besar dari 40 mm.




2.2.3. Air
           Air merupakan bahan dasar pembuat beton yang penting namun harganya paling murah . Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Untuk bereaksi dengan semen, air yang diperlukan hanya sekitar 25 persen berat semen saja, namun dalam kenyataannya nilai factor air semen yang dipakai sulit kurang lebih 0,35. Kelebihan air ini yang dipakai sebagai pelumas. Tetapi perlu dicatat bahwa tambahan air untuk pelumas ini tidak boleh terlalu banyak karena kekuatan beton akan rendah serta betonnya porous. Apabila ada kebocoran cetakan air bersama-sama semen juga dapat keluar, sehingga terjadilah sarang-sarang kecil.           
          
          Air yang memenuhi persyaratan sebagai air minum memenuhi syarat pula untuk bahan campuran beton (tetapi tidak berarti air pencampur beton harus memenuhi standar persyaratan air minum).
          Secara umum, air yang dapat dipakai untuk bahan pencampur beton ialah air yang bila dipakai akan dapat menghasilkan beton dengan kekuatan lebih dari 90% kekuatan beton yang memakai air suling.

2.3.Pengujian-pengujian Bahan Campuran Beton
Pengujian yang dilakukan selama praktek pengujian bahan (beton) adalah sebgai berikut :
a.       Pengujian Kadar Air
b.      Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan
c.       Pengujian Berat Isi
d.      Pengujian Analisis Ayak
e.       Daftar Isian Formula Campuran Beton
f.       Pengujian Kuat Tekan Kubus
g.      Pengujian Abrasi
h.      Pengujian Hammer Test



BAB III
PEMBAHASAN

3.1.Job Sheet 1 : Uji Kadar Air
3.1.1        Tujuan
Tujuan diadakannya praktek ini agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek pengujian kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakan
3.      Mengetahui besar harga kadar air yang terdapat pada agregat kasar dan agregat halus

3.1.2        Waktu dan Lokasi
Pengujian kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 9 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium teknik Sipil dan perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.1.3        Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan :
1.      Sekop
2.      Nampan
3.      Timbangan
4.      Oven
5.      Cawan
6.      Sendok besi
Bahan yang digunakan
1.      Agregat Halus (Pasir)
2.      Agregat Kasar (Batu Pecah)


3.1.4        Langkah Kerja
1.      Sebelum melakukan praktek kerja persiapkan peralatan dan  bahan yang akan digunakan.
2.      Setelah itu ambillah agregat halus dan kasar pada tempatnya dengan menggunakan,kemudian timbang berat agregat basah kasar dan agregat basah halus.
3.      Masukkan agregat basah kasar dan agregat basah halus yang di timbang tadi  kedalam oven dengan suhu 110°C ± 24 jam
4.      Setelah di oven, dinginkan kedua bahan tersebut di suhu ruangan
5.      Setelah proses pendinginan, timbang agregat tersebut untuk mendapatkan berat keringnya
6.      Kemudian masukkan hasil timbangan bahan saat basah dan kering kedalam form yang telah disediakan
7.      Lakukanlah perhitungan terhadap bahan tersebut untuk mendapatkan kadar air yang terkandung di dalamnya.
8.      Laporkanlah kepada instruktur bahwa praktek telah selesai
3.1.5        Perhitungan
Perhitungan Uji Kadar Air Agregat Kasar
Pemeriksaan
Rumus
I
II
Rata-rata
Kadar Air Agregat
1,079%
0,94%
1,01 %
Perhitungan Uji Kadar Air Agregat Halus
Pemeriksaan
Rumus
I
II
Rata-rata
Kadar Air Agregat
10,073%
14,32%
12,53 %

Keterangan :
W3         = Berat benda uji
W5         = Berat benda uji kering oven
Nilai W dapat dilihat pada lampiran form


3.2              Job Sheet 2 : Uji Berat Jenis dan Uji Penyerapan
3.2.1.   Tujuan
1.      Melaksanakan praktek pengujian berat jenis dan penyerapan pada agregat kasar dan agregat halus dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2.      Mengetahui peralatan dan fungsi kegunaannya
3.      Mengetahui besar harga berat jenis dan penyerapan yang terdapat pada agregat kasar dan agregat halus

3.2.2     Waktu dan Lokasi
         Pengujian kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 10 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium teknik Sipil dan perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.2.3        Alat  dan Bahan
          Peralatan yang digunakan :
1.      Sekop
2.      Nampan
3.      Timbangan
4.      Oven
5.      Cawan
6.      Sendok besi
7.      Bejana
           Bahan yang digunakan :
1.      Agregat Halus (Pasir)
2.      Agregat Kasar (Batu Pecah)
3.      Air





3.2.4        Langkah Kerja
1.      Sebelum melakukan praktek kerja Persiapkan terlebih dahulu peralatan dan bahan yang akan digunakan
2.      Kemudian benda uji yang telah dioven dengan suhu 110°C tadi dinginkan dengan suhu kamar selama Kurang lebih 1 jam
3.      Setelah di dinginkan rendam kembali bahan uji kedalam air hingga menutup     bagian semua bahan uji selama ± 24 jam
4.      Setelah direndam sehari semalam, laplah  bahan uji hingga kering dari air
5.      Masukkan benda uji ke dalam bejana gelas dan tambahkan air hingga benda uji terendam sampai batas yang ditentukan, untuk mencegah terjadinya gelembung alangkah baiknya masukan air 1/2 atau 1/3 terlebih dahulu.
6.      Timbang berat bejana + benda uji + air ( B1 )
7.      Bersihkan bejana dari benda uji dan masukkan lagi air sampai batas yang telah ditentukan, lalu timbang untuk mendapatkan berat bejana berisi air
8.      Laporkan kepada instruktur bahwa praktek telah selesai.
3.2.5        Perhitungan
A.    Perhitungan Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar
Pemeriksaan
Rumus
I
II
Rata-rata
Berat Jenis Bulk/ov
2,68
2,58
2,63
Berat Jenis SSD
2,69
2,60
2,65
Berat Jenis App
2,71
2,64
2,68
Penyerapan
0,39 %
0,75 %
0,57 %
Keterangan :
Bj        = Berat benda uji jenuh permukaaan kering
B1       = Benda uji kering oven
B2       = Berat bejana berisi air
B3       = Berat bejana + benda Uji + air
Nilai B dapat dilihat pada lampiran form

B.     Perhitungan Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus
Pemeriksaan
Rumus
I
II
Rata-rata
Berat Jenis Bulk/ov
2,58
2,59
2,585
Berat Jenis SSD
2,69
2,63
2,66
Berat Jenis App
2,89
2,72
2,8
Penyerapan
4,09 %
1,77%
2,93 %


Keterangan :
SSD     = Berat benda uji jenuh permukaaan kering
B1       = Benda uji kering oven
B2       = Berat bejana berisi air
B3       = Berat bejana + benda Uji + air
Nilai B dan SSD dapat dilihat pada lampiran form

3.3              Job Sheet 3 : Uji Berat Isi
3.3.1.           Tujuan
1.      Melaksanakan praktek pengujian berat isi pada agregat kasar dan agregat halus dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakan dan fungsi kegunaannya.
3.      Mengetahui besar harga berat isi yang terdapat pada agregat kasar dan agregat halus
3.3.2        Waktu dan Lokasi
Pengujian kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 11 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium teknik Sipil dan perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.3.3        Alat  dan Bahan
1.      Sekop
2.      Nampan
3.      Timbangan
4.      Oven
5.      Cawan
6.      Sendok besi
7.      Mould

3.3.4        Langkah Kerja
Berat Isi Lepas
1.      Sebelum melakukan Praktek kerja persiapkan peralatan dan bahan yang di butuhkan
2.      Kemudian Timbang dan Catat berat mould dalam keadaan kosong
3.      Masukkan benda uji kedalam mould hingga penuh, ratakan bagian atasnya
4.      Timbang berat dari mould + benda uji
5.      Catat hasilnya pada form yang di sediakan.
Berat Isi Padat
1.      Timbang mould tersebut dalam keadaan kosong.
2.      Isi mould dengan benda uji dalam 3 lapis kurang lebih sama tebal baik itu agregat kasar maupun agregat halus.
3.      Kemudian tumbuk benda uji sebanyak 25 kali untuk setiap lapisan menggunakan penumbuk khusus.
4.      Setelah itu ratakan benda uji pada tumbukkan ke 3
5.      Timbang dan cacat hasilnya









3.3.5        Perhitungan
Perhitungan Uji Berat Isi Agregat Kasar
Pemeriksaan
Padat
Halus
I
II
I
II
Berat Isi
1,619
1,588
1,434
1,423
Rata-rata
1,6035
1,4285
Rata-rata
1,516

Perhitungan Uji Berat Isi Agregat Halus
Pemeriksaan
Padat
Halus
I
II
I
II
Berat Isi
1,425
1,428
1,247
1,313
Rata-rata
1,4265
1,28
Rata-rata
1,353
Keterangan :
W1      = Berat Mould
W2      = Berat Mould + Benda Uji
W3      = Berat Benda Uji
W4      = Berat Mould
V         = Berat air / Isi Mould
Nilai W dan V dapat dilihat pada lampiran form











3.4              Job Sheet 4 : Uji Analisis Ayak
3.4.1.      Tujuan
Tujuan diadakannya praktek uji analisis ayak, ini agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek pengujian analisis ayak pada agregat kasar dan agregat halus dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakan dan fungsi kegunaanya
3.      Mengetahui besar diameter agregat yang lolos pada ayakan dari setiap nomor ayakan

3.4.2.      Waktu dan Lokasi
Pengujian analisis ayak pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 11 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.4.3.      Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan :
1.      Sendok Besi
2.      Nampan
3.      Ayakan dengan diameter Pan - 1½ inchi
4.      Timbangan
Bahan yang digunakan :
1.      Agregat Kasar (batu pecah)
2.      Agregat Halus (Pasir)

3.4.4.      Langkah Kerja
Analisa ayak agregat halus
1.      Sebelum melakukan praktek kerja,persiapkan terlebih dahulu peralatan dan bahan yang di perlukan.
2.      Timbang berat talam kosong
3.      Kemudian masukan agregat halus sebanyak 500 gram.
4.      Setelah itu saring benda uji dengan menggunakan susunan 4 mm kebawah
5.      Timbang masing-masing hasil setiap ayakan tersebut, masukkan data kedalam form yang telah di sediakan.

Analisa ayak agregat kasar
1.      Siapkan alat dan bahan yg di perlukan
2.      Timbang talam dalam keadaan kosong
3.      masukan agregat kasar sebanyak 500 gram
4.      Saring benda uji dengan menggunakan susunan 4 mm keatas
5.      Timbang masing-masing hasil setiap ayakan tersebut, masukkan data kedalam form

3.4.5.      Perhitungan

Analisa ayak (Halus)
Berat masing – masing komulatif (gram)
Diameter
Berat masing-masing
Berat
Ayakan
Tertahan
Komulatif
Mm
(gram)
Tertahan
9,50
0
0
4,750
2,94
2,94
Hasil yang lain dapat dilihat pada lampiran analisa ayak
Persen tertahan ( % ) rumus :
 
Hasil yang lain dapat dilihat pada form dilampiran

Persen komulatif
Persen
Persen Komulatif
Tertahan
( % )
Tertahan
Lolos (100 – Tertahan)
0
0
100
0,59
0,59
100 – 0,59 = 99,41
Hasil yang lain dapat dilihat pada lampiran form
Analisa ayak (Kasar)
Perhitungan anlisis ayak (kasar) sama dengan perhitungan analisa ayak (halus), data dapat dilihat pada lampiran form






3.5              Job Sheet 5 : Daftar Isian Campuran Beton
3.5.1.      Tujuan

Tujuan diadakannya praktek isian campuran beton, ini agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek pengujian isian campuran beton dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar.
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakan dan fungsi kegunaannya
3.      Membuat dan menghitung campuran beton yang baik dan benar.

3.5.2.      Waktu dan Lokasi
Pengujian isian campuran beton dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 12 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.5.3.      Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan :
1.      Sekop
2.      Nampan
3.      Timbangan
4.      Ember
5.      Cetakan Ukr. 15 cm x 15 cm
6.      Sendok semen
7.      Penumbuk
Bahan yang digunaka
1.      Semen
2.      Agregat
3.      Air

3.5.4.      Langkah Kerja

1.      Tentukan kuat tekan beton  yang akan di desain
2.      Perkirakan standar deviasinya
3.      Hitung nilai tambahnya ( Margin ) dengan rumus ; 1,65 x standar deviasi
4.      Hitung kuat tekan rata-rata target dengan rumus ; kuat tekan yang disyaratkan +  nilai tambahan
5.      Tentukan jenis type semen yang akan digunakan

6.      Tentukan bentuk / jenis agregat yang akan digunakan yaitu pasir alam dan batu pecah
7.      Tentukan factor air semen dengan melihat gambar 1 pada form
8.      Tentukan factor air semen maksimum dengan melihat tabel 3
9.      Tentukan nilai slump dengan melihat pada tebel 1
10.  Tentukan ukuran maksimum agregat yang akan dgunakan dalam campuran
11.  Tentukan kadar air bebas dengan melihat tabel 2
12.  Hitunglah jumlah semen yang akan digunakan dengan rumus ; hasil Langkah 11 : Langkah 7
13.  Tentukan jumlah semen maksimum yaitu sama dengan jumlah semen yang di butuhkan
14.  Tentukan jumlah semen minimum dengan melihat tabel 3
15.  Tentukan jumlah semen yang disesuaikan, alangkah lebih baik menggunakan jumlah semen maksimum yang di gunakan
16.  Tentukan perbandingan % berat Agg. Halus dan Agg. Kasar
17.  Hitung berat jenis agregat gabungan kondisi SSD dengan rumus ; (% Agg. Halus x BJ Agg. Halus) + (% Agg. Kasar x BJ Agg. Kasar)
18.  Kemudian tentukan berat volume beton segar dengan melihat gambar 2
19.  Setelah itu hitung berat Agg. Gabungan SSD dengan rumus ; hasil langkah 18 – langkah 12 – langkah 11
20.  Hitung berat Agg. Halus dengan rumus ; hasil langkah 19 x % Agg. Halus
21.  Hitung berat Agg. Kasar dengan rumus ; hasil langkah 19 – langkah 20
22.  Setelah itu tentukan komposisi berat unsur adukan per m³ beton (kg) untuk 5 buah cetakan beton dengan ukuran 15 cm x15 cm yang telah disediakan
23.  Setalah melakukan perhitungan ambil bahan yang telah ditentukan oleh perhitungan isi campuran beton tadi
24.  Kemudian timbang masing- masing berat bahan tersebut sesuai dengan perencanaan.
25.  Aduk bahan uji tersebut hingga merata diatas nampan besar yang telah disediakan.
26.  Ambil mould persegi dan masukkan mortar yang telah jadi kedalam mould dengan 3 lapis kurang lebih sama tebal,padatkan dengan penumbuk.


27.  Setelah bahan uji telah memenuhi mould, angkat mould dengan hati-hati
28.  Setelah diangkat, dan ada bagian atas mould yang runtuh
29.  Hitung tinggi keruntuhan bahan uji untuk mengetahui apakah slump yang digunakan cukup atau sudah memenuhi persyaratan slump.
30.  Sebelum memasukan bahan uji sebaiknya terlebih dahulu lapisi cetakan dengan oli agar sewaktu pelepasannya nanti lebih mudah
31.  Masukkan bahan uji kedalam cetakan yang telah disediakan, padatkan dengan sedok semen atau penumbuk
32.  Setelah semua campuran adukan semen masuk dalam cetakkan, biarkan cetakkan selama 3 hari
3.5.5.      Perhitungan
Kolom tidak terlindung dangan K-250
Kebutuhan :
1.      Volume                 = 0,00375 m³
2.      Beton yang dibuat = 5 x 0,00375 m³ = 0,016875
3.      Semen                   = 342,24 x 0,016875 = 5,7753
= (5,7753)+(10% x 5,7753) = 6,4 kg
4.      Agregat Halus       = 639,716 x 0,016875 = 10,795
= (10,795)+(10% x 10,795) = 11,9 kg
5.      Agregat kasar        = 1188,044 x 0,016875 = 20,048
= (20,048)+(10% x 20,048) = 22,05kgr

6.      Air                         = 205 x 0,01675 = 3,4594
= (3,4594)+(10% x 3,4594) = 6,4 kg
Perhitungan lain dapat dilihat pada lampiran form















3.6              Job Sheet 6 : Uji Kuat Tekan Kubus
3.6.1.      Tujuan
Tujuan diadakannya praktek uji kuat tekan  beton, ini agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek pengujian kuat tekan beton dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya
3.      Menentukan kuat tekan beton

3.6.2.      Waktu dan Lokasi

Pengujian kuat tekan  beton dilaksanakan pada hari senin, tanggal 16 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.6.3.      Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan :
1.      Mesin uji kuat tekan
2.      Timbangan
Bahan yang digunakan
1.      Balok ukuran 15 cm x 15 cm

3.6.4.      Langkah Kerja

1.      Sebelum melakukan praktek siapkan alat dan bahan terlebih dahulu
2.      Ambil balok yang telah direndam selama 3 hari dari bak perendam
3.      Kemudian keringkan dengan kain lap yang telah disediakan
4.      Berikan nomor pada setiap balok yang telah diambil


5.      Setelah itu Timbang balok tersebut ditimbangan, masukkan data ke form yang telah disediakan
6.      Setelah di timbang letakkan balok tersebut ke mesin uji kuat tekan. Baca kuat tekan yang diterima oleh setiap balok tersebut
7.      Hitung kuat tekan yang diterima oleh setiap balok tersbut diform yang telah disediakan

3.6.5.      Perhitungan
Kuat tekan :
 
data yang lain dapat dilihat pada lampiraan form


3.7              Job Sheet 7 : Uji Abrasi
3.7.1.      Tujuan
Tujuan diadakannya praktek uji abrasi, ini agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek abrasi dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakan sesuai dengan kegunaannya
3.      Menentukan kehausan (abrasi) agregat kasar

3.7.2.      Waktu dan Lokasi

Pengujian kehausan (abrasi) agregat kasar dilaksanakan pada hari senin, tanggal 16 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.








3.7.3.      Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan :
1.      Sekop
2.      Nampan
3.      Ayakan diameter 12 mm dan 9,5 mm
4.      Mixer
Bahan yang digunakan :
1.      Agregat Kasar (Kerikil)

3.7.4.      Langkah Kerja
1.      Sebelum melakukan praktek kerja persiapkan alat dan bahan yang di butuhkan.
2.      Timbang bahan uji (kerikil) sebanyak 5000 kg
3.      Kemudian masukkan ke ayakan yang telah disediakan
4.      Setalah di ayak,ambil bahan yang tertahan oleh setiap ayakan, masing-masing 2500 kg
5.      Masukkan bahan tersebut kedalam mixer, tunggu hingga beberapa menit
6.      Setelah selesai dimixer, buang debu dari hasil mixer dengan diayak kembali
7.      Timbang kembali hasil yang sudah dimixer
8.       Hitung kehausan (abrasi) tersebut dalam form yang telah disediakan

3.7.5.      Perhitungan






3.8              Job Sheet 8 : Uji Hammer Test
1.1.1.      Tujuan

Tujuan diadakannya praktek uji hammer test, ini agar mahasiswa dapat :
1.      Melaksanakan praktek pengujian hammer test dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2.      Mengetahui peralatan yang akan digunakansesuai dengan kegunaannya
3.      Mengetahui kuat tekan (ketahanan) beton dengan meggunakan hammer test

3.8.2.      Waktu dan Lokasi

Pengujian hammers test pada struktur bangunan laboratorium sipil yang dilaksanakan pada hari jum’at, tanggal 13 juli 2012. Berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.

3.8.3.      Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan :
1.      Hammer test
Bahan yang digunakan :
1.      Beton (kolom, lantai, balok)

3.8.4.      Langkah Kerja
1.      Sebelum melakukan praktek kerja Persiapakan peralatan dan lokasi pengambilan test
2.      Buatlah gambar persegi dengan ukuran 15x15 cm pada bagian yang akan ditest
3.      Beri Sembilan titik seperti petujuk dibawah ini




4.       Tembakkan hammer test pada setiap titik, baca berapa kuat tekan yang       diterima oleh setiap titik.
5.       Kemudian,Masukkan data kedalam form dan hitung ketahan beton

3.8.5.      Perhitungan
Nama Struktur
1
2
3
rata-rata
Posisi Alat
Kolom
40
40
42
40.78
Posisi A
40
44
40
42
40
39
Balok
40
41
46
41.667
Posisi A
42
43
38
41
44
40
Lantai
45
46
47
44.7
Posisi C
45
46
44
44
46
39















BAB IV
PENUTUP



4.1.            Kesimpulan
            Dari hasil penelitian yang telah dibuat, dapat disimpulkan beton adalah merupakan campuran dari agregat kasar dan halus,semen,air. Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi oleh beton tersebut, maka dari itu pengujian bahan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah bahan yang akan digunakan dalam pembutan beton sudah memenuhi standar yang cukup baik..
            Ada beberapa pengujian bahan (beton) yang dilakukan selama praktek pengujian bahan (beton), yaitu ;
1.      Pengujian kadar air
2.      Pengujian berat jenis dan penyerapan
3.      Pengujian berat isi
4.      Pengujian analisa ayak
5.      Pengujian isi formula campuran beton
6.      Pengujian kuat tekan
7.      Pengujian abrasi
8.      Pengujian hammer test

4.2.            Saran
Saran yang ingin penulis sampaikan adalah sebaiknya jangan bermain-main dalam melakukan praktek pengujian bahan agar mendapatkan hasil yang baik,gunakanlah  pakain laboratorium yang telah disediakan,perhatikan petunjuk dari instruktur dan  teknisi laboratorim, bekerja samalah dalam melakukan praktek agar pelaksanaan lebih terasa mudah,catatlah data-data yang diperlukan untuk dimasukkan pada laporan yang akan dibuat setelah melakukan praktek




Hasil uji Slump

Proyek           : Praktikum
Pekejaan        : Balok

Material

Semen          ; 6,4 Kg
Pasir             : 11,9 Kg
Kerikil          : 22,05 Kg
Air                : 3,81

No Pemeriksaan
Slump ( mm )
1
7,5
2
8
3
10
Rata-Rata
8,5

Tidak ada komentar :

Posting Komentar