BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Perkembangan rekayasa teknologi dalam bidang teknik
sipil pada saat ini terasa begitu cepat, baik dalam bidang rekayasa struktur,
manajemen, maupun teknologi bahan. Beton merupakan salah satu unsur yang sangat
penting mengingat fungsinya sebagai salah satu elemen pembentuk struktur yang
paling banyak di gunakan, hal ini di sebabkan karena sistem kontruksi beton
mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan bahan lain. Misalnya
mempunyai kuat tekan tinggi, dapat mengikuti bentuk bangunan secara bebas, tahan
terhadap api dan biaya perawatannya relatif murah.
Beton bermutu tinggi dan berkinerja tinggi saat ini
merupakan material bangunan yang sudah banyak di gunakan dalam pelaksanaan
struktur bangunan modern disebabkan oleh adanya kebutuhan kinerja structural
yang tinggi pada bangunan tersebut baik pada keadaan layanan servis, keadaan
batas (ultimate), maupun keawetanya (durability) secara jangka panjang.
Industri kontruksi di Indonesia berkembang dengan
pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional, kemajuan tersebut perlu di
imbangi dengan penyediaan bahan bangunan alternatif, seperti beton ringan
karena beton memiliki berbagai keunggulan diantaranya mempunyai kuat tekan
tinggi, tahan cuaca, tahan haus, perawatan rendah serta harga relatif murah.
Kelemahan beton adalah kuat tarik rendah, terjadi pengembangan dan penyusutan
saat perubahan suhu, getas serta sulit kedap air secara sempurna.
Pada dasarnya beton
merupakan salah satu bahan bangunan yang memiliki kemampuan untuk menahan daya
tekan.Namun beton tidak memiliki kemampuan untuk menahan gaya tarik , sehingga
membutuhkan bantuan dari bahan bangunan lainnya yang memiliki kemampuan menahan
gaya tarik , yaitu baja tulaangan. Oleh
karena itu , untuk mengantisipasi tegangan tarik maupun tengangan tekan
yang terjadi secara bersamaan pada balok lentur , maka balok beton yang
mengalami lenturan tersebut perlu diberikan baja tulangan pada bagian yang
mengalami tegangan tarik. struktur yang demikian yang dinamakan struktur beton bertulang.
1.2.
Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek ini, diharapkan agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek pengujian bahan dengan baik dan mengikuti prosedur dari instruktur dan teknisi
lapangan
2. Mengetahui kadar air, berat isi, berat jenis,
3. Menghitung
jumlah campuran beton yang baik
4. Mengetahui apa saja alat dan bahan yang digunakan pada proses Uji Laboratorium
Beton.
5. Mengetahui kegunaan alat-alat Laboratorium yang di
gunakan.
6. Mengetahui formula perencanaan campuran beton.
7. Mengetahui kuat tekan kubus beton yang telah dibuat.
1.3.
Waktu dan Lokasi
Pelaksanaan
Praktek pengujian bahan (beton)
dilaksanakan selama satu minggu pada tanggal 9 juli sampai 17 juli 2012
Adapun tempat pelaksanaan
praktek uji beton laboratorium yaitu di laksanakan di laboratorium Teknik Sipil
Politeknik Negeri Pontianak.
BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pengertian
Beton
ialah merupakan suatu benda padat yang didapatkan dari pencampuran bahan-bahan
agregat kasar dan agregat halus, yaitu pasir, batu pecah/kerikil atau
bahan-bahan semacam lainnya, kemudian dicampur dengan bahan pengikat semen dan
air sebagai bahan pembantu guna proses pengerasan dan perawatan beton
berlangsung. Nilai kekuatan serta daya tahan (durability) beton
tergantung dari banyak faktor, diantaranya ialah nilai banding campuran, mutu
bahan susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur
dan kondisi perawatannya.
Nilai kuat tekan beton relatif tinggi dibandingkan
dengan nilai kuat tariknya dan beton merupakan bahan yang bersifat getas. Nilai
kuat tariknya sekitar 9%-15% saja dari kuat tekannya pada penggunaan sebagai
komponen struktural bangunan, umumnya beton diperkuat dengan bahan tulang baja
sebagai bahan yang dapat bekerjasama dan mampu membantu kelemahannya, terutama
pada bagian yang menahan gaya tarik (Djokohusodo, 1.,1999).
Persyaratan umum untuk campuran beton yang digunakan
dalam melaksanakan konstruksi beton adalah sebagai berikut:
- Persyaratan kekuatan
- Persyaratan keawetan
- Persyaratan kemudahan pengerjaan
- Persyaratan ekonomis
Beton dapat dibedakan berdasarkan berat jenisnya.
Ada tiga berat jenis beton yaitu: beton ringan, beton normal dan beton berat.
- Beton
ringan,beton yang mempunyai berat jenis sampai 1,850 kg/m3
- Beton normal,
beton yang mempunyai berat jenis antara 1,850-2,500 kg/m3
- Beton berat,
beton yang mempunyai berat jenis lebih besar dari 2,500 kg/m3 (Departemen
Pekerjaan Umum, 1990)
Parameter-parameter
yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah:
- Kwalitas semen
- Proporsi semen terhadap campuran
- Kekuatan dan kebersihan agregat
- Interaksi atau adhesi antara pasta
semen dengan agregat
- Pencampuran yang cukup dari
bahan-bahan pembentuk beton
- Penempatan yang benar, penyelesaian
pemadatan beton
- Perawatan beton dan kandungan
klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton yang diekspos dan 1% bagi beton
yang tidak diekspos (nawy,1985:24).
2.2. Isi Campuran Beton
Beberapa
isi campura beton, seperti :
2.2.1
Semen
Semen ialah suatu jenis bahan yang berfungsi sebagai
bahan perekat atau pengikat agregat kasar, agregat halus dan air menjadi satu
kesatuan. Semen yang biasa digunakan adalah semen portland (ordinary
portland cemen), yaitu semen hidrolis yang mengeras apabila dicampur dengan
air. Semen portland merupakan bubuk halus yang dibuat dari bahan baku berupa
campuran (CaO), silika (SiO2), alumina (AL2O3) yang digiling bersama bahan
tambahan yang lainnya (nawy, E, 1998).
Klasifikasi
semen menurut ASTM dibagi menjadi 5 (lima) tipe yaitu:
- Semen tipe I
Semen portland standar digunakan untuk semua
bangunan beton yang tidak akan mengalami perubahan cuaca yang dasyat, untuk
penggunaan umum, serta tidak memerlukan persyaratan khusus.
- Semen tipe II
Untuk bangunan yang menggunakan pembetonan secara
massal seperti dam, panas hidrasi tertahan dalam bangunan untuk jangka waktu
lama. Pada saat terjadi pendinginan timbul tegangan-tegangan akibat perubahan
panas yang akan menyebabkan retak-retak pada bangunan. Untuk mencengah hal-hal
yang tidak diinginkan tersebut, dibuatlah jenis semen yang mengeluarkan panas
hidrasi lebih rendah serta dengan kecepatan penyebaran panas yang rendah pula,
semen tipe II ini merupakan semen untuk beton tahan sulfat dan mempunyai panas
hidrasi sedang dan disebut juga “modified portland cemen”. Semen ini
menimbulkan 15%-20% lebih sedikit panas dibandingkan dengan semen tipe I.
- Semen tipe III
Semen portland tipe III adalah jenis semen yang
cepat mengeras dan cocok untuk pengecoran beton pada suhu rendah, butiran
–butiran semennya digiling lebih halus dari butiran-butiran tipe I untuk
mempercepat proses hidrasi yang diikuti dengan percepatan pengersan serta
percepatan pengembangan kekuatan. Semen ini disebut juga “semen dengan kekuatan
awal tinggi” digunakan bilamana kekuatan harus dicapai dalam waktu yang
singkat. Semen tipe III ini menimbulkan panas sampai 50% lebih banyak pada umur
rendah dibandingkan dengan semen tipe I.
- Semen tipe IV
Semen portland tipe IV ini menimbulkan panas hidrasi
rendah, hal ini menunjukkan bahwa semen tipe demikian panas 40-50% selama
sedang terjadi proses hidrasi pada umumnya 1-7 hari dibandingkan dengan panas
yang ditimbulkan oleh tipe I. Semen tipe IV ini digunakan untuk kondisi dimana
kecepatan dan jumlah panas yang timbul harus minimum misalnya pada bangunan
masih seperti bendungan gravitasi yang besar.
- Semen tipe V
Semen portland tipe V ini tahan terhadap serangan
sulfat digunakan di daerah-daerah pasang surut pada bangunan-bangunan beton di
laut juga menimbulkan panas 25-40% lebih kecil dari pada semen tipe I.
Pengerasan pasta semen berlangsung terus menerus,
mula-mula secara cepat kemudian lebih lambat untuk jangka waktu yang lama.
Pengikat harus terus menerus berlangsung dengan lambat, sebab jika tidak
demikian adukan semen akan sukar dikerjakan. Oleh karena itu
spesifikasi-spesifikasi untuk semen masyarakat bahwa awal pengikatan dari pasta
semen tidak boleh terjadi kurang dari 1 jam setelah kita membubuhkan air pada
semen. Pada umumnya waktu pengikatan adukan beton sekarang ini berlangsung
lebih lama kira-kira 3-5 jam.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi waktu
pengikat awal dari semen yaitu;
1. Umur
semen
Selama semen itu disimpan untuk jangka waktu yang
lama semen itu akan menghisap air dan zat asam arang dari udara, sehingga
terjadi prahidrasi sebagai akibatnya daya pengikatnya akan menjadi lambat,
sedangkan kekuatan tekannya akan berkurang.
2. Suhu
Kecepatan suatu reaksi kimia tergantung pada suhu
dari massa yang bereaksi serta suhu lingkungannya. Reaksi antara semen dan air
berlangsung lebih cepat pada suhu yang tinggi (misalnya perawatan dengan uap),
akan tetapi untuk proses pengikatan suhu yang paling rapat kira-kira 23oC.
3. Jumlah
air yang dibutuhkan
Agar reaksi kimia antara semen dan air berlangsung
dengan memuaskan dibutuhkan air kira-kira 20% air dari berat semen. Dalam
adukan beton yang memerlukan lebih banyak air, panas hidrasi akan timbul
disebarkan dengan meluas pada bahan-bahan agregat yang lainnya, sehingga suhu pada
saat terjadinya pengikatan akan jauh lebih besar dari pada suhu pada waktu
terjadi pengikatan hanya antara air dan semen sehingga waktu pengikatan pada
adukan beton akan berlangsung lebih lama.
2.2.2
Agregat
Agregat merupakan bahan penyusun beton yang paling berperan
dalam menentukan nilai kuat tekan beton. Pada beton biasanya terdapat sekitar
60-70% volume agregat, agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga
seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen dan rapat,
dimana agregat yang berukuran kecil berfungsi sebagai pengunci celah yang ada
diantara agregat yang berukuran besar.
Sifat yang paling penting dari suatu agregat
(batu-batuan, kerikil, pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan
terhadap benturan, yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen,
porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan
terhadap proses pembekuan waktu pada musim dingin dan agresi kimia, serta
ketahanan terhadap penyusustan.
Mengingat bahwa agregat menempati sekitar 70-75
persen dari total volume beton maka kualitas agregat sangat berpengaruh
terhadap kualitas beton. Dengan angregat yang baik, beton dapat dikerjakan (workable),
kuat, tahan lama (durable) dan ekonomis. Pengaruhnya dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Tabel
. Pengaruh sifat agregat
pada sifat beton
Sifat
agregat
|
Sifat
beton
|
|
Bentuk,
tekstur gradasi
|
Beton
cair
|
Kelecakan,
Pengikatan dan pengerasan
|
Sifat fisik, sifat kimia, mineral
|
Beton keras
|
Kekuatan, kekerasan, ketahanan (durability)
|
Sumber : Paul Nugraha, Antoni. Teknologi
Beton halaman 43
1. Agregat
Halus(Pasir):
Pasir
adalah bahan batuan halus yang terdiri dari butiran dengan ukuran 0,14-5 mm,
yang didapat pelapukan batuan secara alami atau dengan cara memecahnya.
2. Agregat
Kasar (Kerikil / batu Pecah):
Agregat
kasar dibedakan atas 2 macam, yaitu krikil (dari batuan alam) dan kricak (dari
batuan alam yang dipecah). Menurut asalnya krikil dapat dibedakan atas; krikil
galian, krikil sungai dan krikil pantai. Krikil galian baisanya mengandung
zat-zat seperti tanah liat, debu, pasir dan zat-zat organik. Krikil sungai dan
krikil pantai biasanya bebas dari zat – zat yang tercampur, permukaannya licin
dan bentuknya lebih bulat. Hal ini disebabkan karena pengaruh air. Butir-butir
krikil alam yang kasar akan menjamin pengikatan adukan lebih baik. Batu pecah
(kricak) adalah agregat kasar yang diperoleh dari batu alam yang dipecah,
berukuran 5-70 mm. Panggilingan/pemecahan biasanya dilakukan dengan mesin
pemecah batu (Jaw breaker/ crusher).
1.
Jaw crusher,
yaitu terdiri dari satu atau lebih rang (jaw) yang memukul sebuah rahang
tetap. Jarak dan panjang gerakan menentukan ukuran butiran batu yang
dihasilkan. Sendi (toggle) tunggal untuk batuan yang lebih lunak
sedangkan sendi ganda untuk yang lebih keras.
- Gyratory crusher,
yaitu terdiri dari kepala crusher digoyang oleh eksentrisitas pada shaft
miring yang berputar.
- Disk crusher,
yaitu terdiri dari satu stasioner dan satu berputar berbentuk piring
membuka dan menutup.
- Hammer atau
Impact crusher.
- Roll crusher, yaitu memasukkan material diantara roll yang
permukaannya bergerigi.
- Rod mill, yaitu menggantikan roll crusher untuk mengurangi
butir halus, lebih ekonomis dan produk lebih seragam.
Ada bermacam-macam jenis batu-batuan bilamama dipecah
yang dapat dimanfaatkan untuk digunakan sebagai agregat beton, misalnya
- Batu Kapur
ialah batuan hasil sedimentasi yang komposisi utamanya ialah kalsium
karbonat. semakin keras dan padat jenis kapir ini, terutama jenis ferro
karbonat yang dijumpai didaerah Derbyshire dan Mendips,
makin cocok sekali untuk pembuatan beton.
- Batu Api yaitu
meliputi granit, basalt, dolerit, gabbros dan phorphyres. Granit
merupakan batu yang keras, ulet dan padat yang sangat baik untuk beton.
Basal merupakan batu api yang menyerupai batu granit, tetapi struktur
butirnya lebih halus karena pendinginan yang cepat pada proses
pembentukannya. Dolerit yaitu mempunyai struktur butir kristal yang
halus yang mengandung felspar banyak dan bahan lain seperti augite,
olivine dan granit
- Sandstone yaitu keras dan padat, hampir semua sandstone cocok
untuk agregat. Yang terbaik ialah yang mempunyai komposisi butriran quartz
yang terikat oleh oksida besi yang terhidrasi atau amorphous silica.
- Batu Tulis,
biasanya agregat ini tidak baik, lunak, lemah, berlapis,
v
Ditinjau dari asalnya
Pada dasarnya agregat aduk dan beton didapat
dengan dua cara :
a. Agregat
Alam
Agregat alam umumnya menggunakan bahan baku batu alam atau hasil
penghancurannya. Batu alam yang baik untuk agregat adalah batuan beku.
Agregat
alam dapat dibedakan atas tiga kelompok :
- Kerikil
dan pasir alam
Merupakan hasil penghancuran oleh alam dari batuan
induknya, terdapat dekat atau jauh dari asalnya, karena terbawa oleh arus air
atau angin dan mengendap di suatu tempat.
- Agregat
batu pecah
Agregat batu pecah dibuat dari batuan alam yang
dipecah.
- Agregat
batu apung
Batu apung
merupakan agregat alamiah yang ringan dan umum digunakan. Penggunaan batu apung
harus bebas dari debu vulkanis halus dan bahan-bahan yang bukan vilkanis,
misalnya lempung.
b. Agregat
Buatan
Agregat buatan adalah agregat yang
dibuat dengan tujuan penggunaan tertentu atau karena kekurangan agregat batuan
alam. Agregat buatan dibuat adalah agregat ringan. Berikut adalah beberapa
contoh agregat buatan :
1. Klinker
dan breeze
Agregat ini banyak dipergunakan selama
bertahun-tahun untuk memproduksi blok dan pelat untuk partisi atau penyekat
dalam dan tembok interior lainnya.Sumber utama agregat jenis ini adalah stasiun
pembangkit tenaga dimana ketel uap dipanasi dengan bahan bakar padat.
2. Agregat
yang berasal dari bahan-bahan yang mengembang
Agregat ini dibuat dari tanah liat biru jenis
khusus, diproses, kemudian mengembang
jika dipanaskan. Bahan yang dihasilkan terdiri atas butiran bulat, keras, kulit
padat tetapi bagian dalam keropos. Bahan yang bersisi tajam dapat diperoleh
dengan memecah butiran-butiran yang terlalu besar.
3. Coke
breeze
Coke breeze adalah hasil tambahan dari sisa bakaran
bahan bakar batu arang yang kurang sempurna pembakarannya, dan biasanya
terdapat ada dapur-dapur rumah tangga di negara Eropa.
4. Hydite
Agregat ini terbuat dari tanah liat (shale) yang
dibakar dalam dapur berputar, pada suhu tinggi. Sehingga bahan akan membengkak.
Hasilnya merupakan bongkahan tanah yang mengembang dan hampir leleh, lalu dihancurkan dan diayak hingga mencapai
susunan butir yang diperlukan.
5. Lelite
Lelite dibuat dari batu metamorf atau shale yang mengandung senyawa karbon.
Bahan dasarnya dipecah kecil-kecil, kemudian dibakar dalam dapur vertikal pada suhu (±
1550°C). Pada suhu ini butiran
mengembang,terkumpul didasar dapur berupa lempeng-lempeng, kemudian lempeng ini
dibuat bahan tambah dengan memecah dan mengayak untuk mendapatkan butiran
agregat yang diinginkan.
v
Ditinjau Dari Berat
jenisnya.
Ditinjau dari berat jenisnya, agregat diibedakan
atas tiga macam :
1. Agregat
ringan
Agregat ringan yaitu agregat yang memiliki berat
jenis kurang dari 2,0 (berat sendiri yang rendah, sehingga strukturnya
ringan) digunakan untuk beton non
struktural. Agregat ini dapat juga digunakan
untuk beton struktural atau blok dinding tembok.,contohnya agregat batu
apung, hydite,rocklite,lelite,dsb.
2. Agregat
normal
Agregat normal adalah agregat yang memiliki berat
jenis antara 2,5 sampai 2,7. Agregat ini berasal dari batuan granit,
basalt,kuarsa dsb, beton yang dihasilkan dinamakan beton normal.
3. Agregat
berat
Agregat berat memiliki berat jenis lebih dari 2,8. Contoh
agregat ini : magnetik (Fe3O4) dan barytes (BaSO4),
atau serbuk besi. Beton yang dihasilkan memiliki berat jenis yang tinggi juga
(dapat sampai 5,0). Beton jenis ini efektif digunakan sebgai dinding pelindung
sinar radiadsi sinar X.
v
Ditinjau dari bentuknya
Agregat alam maupun
batu pecah dapat mempunyai berbagai bentuk butiran. yaitu
1. Bulat
Umumnya
agregat jenis ini berbentuk bulat atau
bulat telur. Pasir kerikil jenis ini biasanya berasal dari sungai atau
pantai dan mempunyai rongga udara minimum 33%. Agregat seperti ini tidak cocok
untuk beton mutu tinggi maupun perkerasan jalan raya.
2. Bersudut
Bentuk
ini tidak beratruran, mempunyai sudut-sudut yang tajam dan permukaannya kasar,
Yang termasuk jenis ini adalah batu pecah semua jenis, yaitu hasil pmecahan
dengan mesin dari berbagai jenis batuan.Agregat ini baik untuk membuat beton
mutu tinggi maupun lapis perkerasan jalan.
3. Pipih
Agregat
pipih ialah agregat yang memiliki perbandingan ukuran terlebar dan tertebal
pada butiran itu lebih dari 3. Agregat jenis ini berasal dari batu-batuan yang
berlapis.
4. memanjang
Butir
Agregat dikatakan memanjang (lonjong) jika perbandingan ukuran yang terpanjang
(terbesar) dan terlebar lebih dari 3
v
Ditinjau dari Tekstur
Permukaan
Jika ditinjau dari tekstur permukaannya
agregat dapat dibedakan atas :
1. Agregat
dengah permukaan seperti gelas, mengkilat,
Contohnya
: flint hitam, obsidian
2. Agregat
dengan permukaan kasar
Umumnya
berupa pecahan batan, permukaan tampak kasar tampak jelas bentuk kristalnya.
Contohnya jenis ini, misalnya basalt, felsite, prophyry, batu kapur
3. Agregat
dengan permukakan licin
Agregat
ini ditemukan pada batuan yang butiran-butirannya kecil (halus), contohnya
kerikil sungai, chart, batu lapis, marmer dan beberapa rhyolite
4. Agregat
dengan permukaan berbutir
Pecahan
dari batuan ini menunjukan adanya butir-butir bulat yang merata, misalnya
batuan pasir, colite
5. Agregat
berpori dan berongga
Batuan
ini mempunyai pori dan rongga yang mudah terliat. Contohnya batu apung, batu klinker,
tanah liat yang dikembangkan dan batuan dari lahar gunung merapi.
v
Ditinjau dari Besar
Butirannya
Ditinjau dari besar butirannya, maka
agregat dapat dibedakan menjadi 3 :
1. Agregat
halus
Agregat
halus adalah agregat yang butirannya menembus ayakan 4,8 mm terdiri dari 3
jenis yaitu :
a. Pasir
galian
Pasir ini diperoleh langsung dari
permukaan tanah, atau dengan cara menggali dari dalam tanah.
b. Pasir
sungai
Pasir ini diperoleh
langsung dari dasar sungai
c. Pasir
laut
Pasir ini adalah
pasir yang diambil dari pantai
2. Agregat
kasar
Agregat
kasar adalah agregat dengan
butiran-butiran tertinggal di atas ayakan dengan lubang 4,8, tetapi lolos
ayakan 40 mm
3. Batu
Batu
adalah agregat yang besar butirnya lebih besar dari 40 mm.
2.2.3. Air
Air
merupakan bahan dasar pembuat beton yang penting namun harganya paling murah .
Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen serta untuk menjadi bahan pelumas
antara butir-butir agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Untuk bereaksi
dengan semen, air yang diperlukan hanya sekitar 25 persen berat semen saja,
namun dalam kenyataannya nilai factor air semen yang dipakai sulit kurang lebih
0,35. Kelebihan air ini yang dipakai sebagai pelumas. Tetapi perlu dicatat
bahwa tambahan air untuk pelumas ini tidak boleh terlalu banyak karena kekuatan
beton akan rendah serta betonnya porous. Apabila ada kebocoran cetakan air
bersama-sama semen juga dapat keluar, sehingga terjadilah sarang-sarang kecil.
Air
yang memenuhi persyaratan sebagai air minum memenuhi syarat pula untuk bahan
campuran beton (tetapi tidak berarti air pencampur beton harus memenuhi standar
persyaratan air minum).
Secara
umum, air yang dapat dipakai untuk bahan pencampur beton ialah air yang bila
dipakai akan dapat menghasilkan beton dengan kekuatan lebih dari 90% kekuatan
beton yang memakai air suling.
2.3.Pengujian-pengujian
Bahan Campuran Beton
Pengujian
yang dilakukan selama praktek pengujian bahan (beton) adalah sebgai berikut :
a. Pengujian
Kadar Air
b. Pengujian
Berat Jenis dan Penyerapan
c. Pengujian
Berat Isi
d. Pengujian
Analisis Ayak
e. Daftar
Isian Formula Campuran Beton
f. Pengujian
Kuat Tekan Kubus
g. Pengujian
Abrasi
h. Pengujian
Hammer Test
BAB III
PEMBAHASAN
3.1.Job
Sheet 1 : Uji Kadar Air
3.1.1
Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek ini agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek pengujian kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dengan baik
dan sesuai dengan prosedur
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakan
3. Mengetahui
besar harga kadar air yang terdapat pada agregat kasar dan agregat halus
3.1.2
Waktu dan Lokasi
Pengujian
kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari selasa,
tanggal 9 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium teknik Sipil dan
perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.
3.1.3
Alat dan Bahan
Peralatan
yang digunakan :
1. Sekop
2. Nampan
3. Timbangan
4. Oven
5. Cawan
6. Sendok
besi
Bahan
yang digunakan
1. Agregat
Halus (Pasir)
2. Agregat
Kasar (Batu Pecah)
3.1.4
Langkah Kerja
1. Sebelum melakukan praktek kerja persiapkan
peralatan dan bahan yang akan digunakan.
2. Setelah itu ambillah agregat halus dan kasar pada
tempatnya dengan menggunakan,kemudian timbang
berat agregat basah kasar dan agregat basah halus.
3. Masukkan
agregat basah kasar dan agregat basah halus
yang di timbang tadi kedalam oven dengan suhu 110°C
±
24 jam
4. Setelah
di oven, dinginkan kedua bahan tersebut
di suhu ruangan
5. Setelah
proses pendinginan,
timbang agregat tersebut untuk mendapatkan berat keringnya
6. Kemudian masukkan hasil timbangan
bahan saat basah dan kering kedalam form yang telah disediakan
7. Lakukanlah perhitungan terhadap bahan tersebut untuk
mendapatkan kadar air yang terkandung di dalamnya.
8. Laporkanlah kepada instruktur bahwa praktek telah selesai
3.1.5
Perhitungan
Perhitungan Uji
Kadar Air Agregat Kasar
Pemeriksaan
|
Rumus
|
I
|
II
|
Rata-rata
|
Kadar
Air Agregat
|
1,079%
|
0,94%
|
1,01
%
|
Perhitungan
Uji Kadar Air Agregat Halus
Pemeriksaan
|
Rumus
|
I
|
II
|
Rata-rata
|
Kadar
Air Agregat
|
10,073%
|
14,32%
|
12,53
%
|
Keterangan
:
W3 = Berat benda uji
W5 = Berat benda uji kering oven
Nilai
W dapat dilihat pada lampiran form
3.2
Job Sheet 2 : Uji Berat
Jenis dan Uji Penyerapan
3.2.1. Tujuan
1. Melaksanakan
praktek pengujian berat jenis dan penyerapan pada agregat kasar dan agregat
halus dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2. Mengetahui
peralatan dan fungsi kegunaannya
3. Mengetahui
besar harga berat jenis dan penyerapan yang terdapat pada agregat kasar dan
agregat halus
3.2.2 Waktu
dan Lokasi
Pengujian
kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari rabu,
tanggal 10 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium teknik Sipil dan
perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.
3.2.3
Alat dan Bahan
Peralatan
yang digunakan :
1. Sekop
2. Nampan
3. Timbangan
4. Oven
5. Cawan
6. Sendok
besi
7. Bejana
Bahan
yang digunakan :
1. Agregat
Halus (Pasir)
2. Agregat
Kasar (Batu Pecah)
3. Air
3.2.4
Langkah Kerja
1. Sebelum melakukan praktek kerja Persiapkan terlebih dahulu peralatan dan
bahan yang akan digunakan
2. Kemudian benda uji yang telah
dioven dengan suhu 110°C tadi dinginkan dengan suhu
kamar selama Kurang lebih 1
jam
3. Setelah di dinginkan rendam
kembali bahan uji kedalam
air hingga menutup bagian semua
bahan uji selama ± 24 jam
4. Setelah
direndam sehari semalam, laplah bahan uji hingga kering dari air
5. Masukkan
benda uji ke dalam bejana gelas dan
tambahkan air hingga benda uji terendam sampai batas yang ditentukan, untuk mencegah terjadinya gelembung alangkah baiknya
masukan air 1/2 atau 1/3 terlebih dahulu.
6. Timbang
berat bejana + benda uji + air ( B1 )
7. Bersihkan
bejana dari benda uji dan masukkan lagi air sampai batas yang telah ditentukan,
lalu timbang untuk mendapatkan berat bejana
berisi air
8. Laporkan kepada instruktur bahwa praktek telah selesai.
3.2.5
Perhitungan
A. Perhitungan
Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar
Pemeriksaan
|
Rumus
|
I
|
II
|
Rata-rata
|
Berat
Jenis Bulk/ov
|
2,68
|
2,58
|
2,63
|
|
Berat
Jenis SSD
|
2,69
|
2,60
|
2,65
|
|
Berat
Jenis App
|
2,71
|
2,64
|
2,68
|
|
Penyerapan
|
0,39
%
|
0,75
%
|
0,57
%
|
Keterangan
:
Bj
= Berat benda uji jenuh permukaaan
kering
B1 = Benda uji kering oven
B2 = Berat bejana berisi air
B3 = Berat bejana + benda Uji + air
Nilai
B dapat dilihat pada lampiran form
B. Perhitungan
Uji Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus
Pemeriksaan
|
Rumus
|
I
|
II
|
Rata-rata
|
Berat
Jenis Bulk/ov
|
2,58
|
2,59
|
2,585
|
|
Berat
Jenis SSD
|
2,69
|
2,63
|
2,66
|
|
Berat
Jenis App
|
2,89
|
2,72
|
2,8
|
|
Penyerapan
|
4,09
%
|
1,77%
|
2,93
%
|
Keterangan
:
SSD
= Berat benda uji jenuh permukaaan
kering
B1 = Benda uji kering oven
B2 = Berat bejana berisi air
B3 = Berat bejana + benda Uji + air
Nilai
B dan SSD dapat dilihat pada lampiran form
3.3
Job Sheet 3 : Uji Berat
Isi
3.3.1.
Tujuan
1. Melaksanakan
praktek pengujian berat isi pada agregat kasar dan agregat halus dengan baik
dan sesuai dengan prosedur
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakan dan fungsi
kegunaannya.
3. Mengetahui
besar harga berat isi yang terdapat pada agregat kasar dan agregat halus
3.3.2
Waktu dan Lokasi
Pengujian
kadar air pada agregat kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari kamis,
tanggal 11 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium teknik Sipil dan
perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.
3.3.3
Alat dan Bahan
1. Sekop
2. Nampan
3. Timbangan
4. Oven
5. Cawan
6. Sendok
besi
7. Mould
3.3.4
Langkah Kerja
Berat
Isi Lepas
1. Sebelum melakukan Praktek kerja persiapkan peralatan dan
bahan yang di butuhkan
2. Kemudian Timbang dan Catat berat
mould dalam keadaan kosong
3. Masukkan
benda uji kedalam mould hingga penuh, ratakan bagian atasnya
4. Timbang
berat dari mould + benda uji
5. Catat hasilnya pada form yang di sediakan.
Berat
Isi Padat
1. Timbang
mould tersebut dalam keadaan kosong.
2. Isi
mould dengan benda uji dalam 3 lapis kurang lebih sama tebal baik itu agregat kasar maupun agregat halus.
3. Kemudian tumbuk benda uji
sebanyak 25 kali untuk setiap lapisan
menggunakan penumbuk khusus.
4. Setelah itu ratakan benda uji
pada tumbukkan ke 3
5. Timbang
dan cacat hasilnya
3.3.5
Perhitungan
Perhitungan
Uji Berat Isi Agregat Kasar
Pemeriksaan
|
Padat
|
Halus
|
||
I
|
II
|
I
|
II
|
|
Berat
Isi
|
1,619
|
1,588
|
1,434
|
1,423
|
Rata-rata
|
1,6035
|
1,4285
|
||
Rata-rata
|
1,516
|
|||
Perhitungan
Uji Berat Isi Agregat Halus
Pemeriksaan
|
Padat
|
Halus
|
||
I
|
II
|
I
|
II
|
|
Berat
Isi
|
1,425
|
1,428
|
1,247
|
1,313
|
Rata-rata
|
1,4265
|
1,28
|
||
Rata-rata
|
1,353
|
|||
Keterangan
:
W1 = Berat Mould
W2 = Berat Mould + Benda Uji
W3 = Berat Benda Uji
W4 = Berat Mould
V = Berat air / Isi Mould
Nilai
W dan V dapat dilihat pada lampiran form
3.4
Job Sheet 4 : Uji Analisis
Ayak
3.4.1. Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek uji analisis ayak, ini agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek pengujian analisis ayak pada agregat kasar dan agregat halus dengan
baik dan sesuai dengan prosedur yang
benar
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakan dan fungsi
kegunaanya
3. Mengetahui
besar diameter agregat yang lolos pada ayakan dari setiap nomor ayakan
3.4.2. Waktu
dan Lokasi
Pengujian analisis ayak pada agregat
kasar dan agregat halus dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 11 juli 2012.
Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri
Pontianak.
3.4.3. Alat
dan Bahan
Peralatan
yang digunakan :
1. Sendok
Besi
2. Nampan
3. Ayakan
dengan diameter Pan - 1½ inchi
4. Timbangan
Bahan
yang digunakan :
1. Agregat
Kasar (batu pecah)
2. Agregat
Halus (Pasir)
3.4.4. Langkah
Kerja
Analisa
ayak agregat halus
1. Sebelum melakukan praktek kerja,persiapkan terlebih
dahulu peralatan dan bahan yang di perlukan.
2. Timbang berat talam kosong
3. Kemudian masukan agregat
halus sebanyak
500 gram.
4. Setelah itu saring benda uji
dengan menggunakan susunan 4 mm kebawah
5. Timbang
masing-masing hasil setiap ayakan tersebut, masukkan data kedalam form yang telah di sediakan.
Analisa
ayak agregat kasar
1. Siapkan alat dan bahan yg di perlukan
2. Timbang talam dalam keadaan kosong
3. masukan agregat kasar sebanyak 500 gram
4. Saring
benda uji dengan menggunakan susunan 4 mm keatas
5. Timbang
masing-masing hasil setiap ayakan tersebut, masukkan data kedalam form
3.4.5. Perhitungan
Analisa ayak (Halus)
Berat masing – masing
komulatif (gram)
Diameter
|
Berat
masing-masing
|
Berat
|
Ayakan
|
Tertahan
|
Komulatif
|
Mm
|
(gram)
|
Tertahan
|
9,50
|
||
4,750
|
2,94
|
Hasil yang lain dapat dilihat pada
lampiran analisa ayak
Persen tertahan ( % )
rumus :
Hasil yang lain dapat
dilihat pada form dilampiran
Persen komulatif
Persen
|
Persen
Komulatif
|
|
Tertahan
|
||
( %
)
|
Tertahan
|
Lolos
(100 – Tertahan)
|
0
|
0
|
100
|
0,59
|
0,59
|
100
– 0,59 = 99,41
|
Hasil yang lain dapat
dilihat pada lampiran form
Analisa ayak (Kasar)
Perhitungan
anlisis ayak (kasar) sama dengan perhitungan analisa ayak (halus), data dapat
dilihat pada lampiran form
3.5
Job Sheet 5 : Daftar
Isian Campuran Beton
3.5.1. Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek isian campuran beton, ini agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek pengujian isian campuran beton dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar.
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakan dan fungsi
kegunaannya
3. Membuat
dan menghitung campuran beton yang baik
dan benar.
3.5.2. Waktu
dan Lokasi
Pengujian isian
campuran beton dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 12 juli 2012. Yang
berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik Negeri
Pontianak.
3.5.3. Alat
dan Bahan
Peralatan yang
digunakan :
1. Sekop
2. Nampan
3. Timbangan
4. Ember
5. Cetakan
Ukr. 15 cm x 15 cm
6. Sendok
semen
7. Penumbuk
Bahan
yang digunaka
1. Semen
2. Agregat
3. Air
3.5.4. Langkah
Kerja
1. Tentukan
kuat tekan beton yang akan di desain
2. Perkirakan
standar deviasinya
3. Hitung
nilai tambahnya ( Margin )
dengan rumus ; 1,65 x standar deviasi
4. Hitung
kuat tekan rata-rata target dengan rumus ; kuat tekan yang disyaratkan + nilai tambahan
5. Tentukan
jenis type semen
yang akan digunakan
6. Tentukan
bentuk / jenis agregat yang akan
digunakan yaitu pasir alam dan batu
pecah
7. Tentukan
factor air semen dengan melihat gambar 1 pada form
8. Tentukan
factor air semen maksimum dengan melihat tabel 3
9. Tentukan
nilai slump dengan melihat
pada tebel 1
10. Tentukan
ukuran maksimum agregat yang akan dgunakan dalam campuran
11. Tentukan
kadar air bebas dengan melihat tabel 2
12. Hitunglah
jumlah semen yang akan digunakan dengan rumus ; hasil Langkah 11 : Langkah 7
13. Tentukan
jumlah semen maksimum yaitu sama dengan
jumlah semen yang di butuhkan
14. Tentukan
jumlah semen minimum dengan melihat tabel 3
15. Tentukan
jumlah semen yang disesuaikan, alangkah lebih
baik menggunakan jumlah semen maksimum yang di gunakan
16. Tentukan
perbandingan % berat Agg. Halus dan Agg. Kasar
17. Hitung
berat jenis agregat gabungan kondisi SSD dengan rumus ; (% Agg. Halus x BJ Agg.
Halus) + (% Agg. Kasar x BJ Agg. Kasar)
18. Kemudian tentukan berat volume
beton segar dengan melihat gambar 2
19. Setelah itu hitung berat Agg.
Gabungan SSD dengan rumus ; hasil langkah 18 – langkah 12 – langkah 11
20. Hitung
berat Agg. Halus dengan rumus ; hasil langkah 19 x % Agg. Halus
21. Hitung
berat Agg. Kasar dengan rumus ; hasil langkah 19 – langkah 20
22. Setelah itu tentukan
komposisi berat unsur adukan per m³
beton (kg) untuk 5 buah cetakan beton dengan ukuran 15 cm x15 cm yang telah
disediakan
23. Setalah melakukan perhitungan ambil
bahan yang telah ditentukan oleh
perhitungan isi campuran beton tadi
24. Kemudian timbang masing- masing berat bahan tersebut
sesuai dengan perencanaan.
25. Aduk
bahan uji tersebut hingga merata diatas nampan besar yang telah disediakan.
26. Ambil
mould persegi dan masukkan mortar yang telah jadi kedalam mould dengan 3 lapis
kurang lebih sama tebal,padatkan dengan
penumbuk.
27. Setelah
bahan uji telah memenuhi mould, angkat mould dengan hati-hati
28. Setelah
diangkat, dan ada bagian atas mould yang runtuh
29. Hitung
tinggi keruntuhan bahan uji untuk mengetahui apakah slump yang digunakan cukup
atau sudah memenuhi persyaratan slump.
30. Sebelum memasukan bahan uji sebaiknya terlebih dahulu lapisi
cetakan dengan oli agar sewaktu pelepasannya
nanti lebih mudah
31. Masukkan
bahan uji kedalam cetakan yang telah disediakan, padatkan dengan sedok semen
atau penumbuk
32. Setelah
semua campuran adukan semen masuk dalam cetakkan, biarkan cetakkan selama 3
hari
3.5.5. Perhitungan
Kolom tidak terlindung
dangan K-250
Kebutuhan :
1. Volume = 0,00375 m³
2. Beton
yang dibuat = 5 x 0,00375 m³ = 0,016875
3. Semen = 342,24 x 0,016875 = 5,7753
= (5,7753)+(10% x 5,7753) = 6,4 kg
4. Agregat
Halus = 639,716 x 0,016875 = 10,795
= (10,795)+(10% x 10,795) = 11,9 kg
5. Agregat
kasar = 1188,044 x 0,016875 =
20,048
= (20,048)+(10% x 20,048) = 22,05kgr
6. Air = 205 x 0,01675 =
3,4594
= (3,4594)+(10% x 3,4594) = 6,4 kg
Perhitungan lain dapat
dilihat pada lampiran form
3.6
Job Sheet 6 : Uji Kuat
Tekan Kubus
3.6.1. Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek uji kuat tekan
beton, ini agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek pengujian kuat tekan beton dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakan sesuai dengan
fungsi dan kegunaannya
3. Menentukan
kuat tekan beton
3.6.2. Waktu
dan Lokasi
Pengujian kuat
tekan beton dilaksanakan pada hari
senin, tanggal 16 juli 2012. Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan
Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.
3.6.3. Alat
dan Bahan
Peralatan yang
digunakan :
1. Mesin
uji kuat tekan
2. Timbangan
Bahan
yang digunakan
1. Balok
ukuran 15 cm x 15 cm
3.6.4. Langkah
Kerja
1. Sebelum melakukan praktek siapkan alat dan bahan terlebih
dahulu
2. Ambil
balok yang telah direndam selama 3 hari dari bak perendam
3. Kemudian keringkan dengan kain
lap yang telah disediakan
4. Berikan
nomor pada setiap balok yang telah diambil
5. Setelah itu Timbang balok
tersebut ditimbangan, masukkan data ke form yang telah disediakan
6. Setelah di timbang letakkan
balok tersebut ke mesin uji kuat tekan. Baca kuat tekan yang diterima oleh
setiap balok tersebut
7. Hitung
kuat tekan yang diterima oleh setiap balok tersbut diform yang telah disediakan
3.6.5. Perhitungan
Kuat
tekan :
data
yang lain dapat dilihat pada lampiraan form
3.7
Job Sheet 7 : Uji Abrasi
3.7.1. Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek uji abrasi, ini agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek abrasi dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang benar
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakan sesuai dengan
kegunaannya
3. Menentukan
kehausan (abrasi) agregat kasar
3.7.2. Waktu
dan Lokasi
Pengujian
kehausan (abrasi) agregat kasar dilaksanakan pada hari senin, tanggal 16 juli
2012. Yang berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan Perencanaan Politeknik
Negeri Pontianak.
3.7.3. Alat
dan Bahan
Peralatan
yang digunakan :
1. Sekop
2. Nampan
3. Ayakan
diameter 12 mm dan 9,5 mm
4. Mixer
Bahan
yang digunakan :
1. Agregat
Kasar (Kerikil)
3.7.4. Langkah
Kerja
1. Sebelum melakukan praktek kerja persiapkan alat dan bahan
yang di butuhkan.
2. Timbang bahan uji (kerikil)
sebanyak 5000 kg
3. Kemudian masukkan ke ayakan yang
telah disediakan
4. Setalah di ayak,ambil
bahan yang tertahan oleh setiap ayakan, masing-masing 2500 kg
5. Masukkan
bahan tersebut kedalam mixer, tunggu hingga beberapa menit
6. Setelah
selesai dimixer, buang debu dari hasil mixer dengan diayak kembali
7. Timbang
kembali hasil yang sudah dimixer
8. Hitung kehausan (abrasi) tersebut dalam form
yang telah disediakan
3.7.5. Perhitungan
3.8
Job Sheet 8 : Uji
Hammer Test
1.1.1. Tujuan
Tujuan
diadakannya praktek uji hammer test, ini agar mahasiswa dapat :
1. Melaksanakan
praktek pengujian hammer test dengan baik dan sesuai dengan prosedur
2. Mengetahui
peralatan yang akan digunakansesuai dengan
kegunaannya
3. Mengetahui
kuat tekan (ketahanan) beton dengan meggunakan hammer test
3.8.2. Waktu
dan Lokasi
Pengujian
hammers test pada struktur bangunan laboratorium sipil yang dilaksanakan pada
hari jum’at, tanggal 13 juli 2012. Berlokasi di laboratorium Teknik Sipil dan
Perencanaan Politeknik Negeri Pontianak.
3.8.3. Alat
dan Bahan
Peralatan
yang digunakan :
1. Hammer
test
Bahan
yang digunakan :
1. Beton
(kolom, lantai, balok)
3.8.4. Langkah
Kerja
1. Sebelum melakukan praktek kerja Persiapakan peralatan dan
lokasi pengambilan test
2. Buatlah
gambar persegi dengan ukuran 15x15 cm pada bagian yang akan ditest
3. Beri
Sembilan titik seperti petujuk dibawah ini
![]() |
4. Tembakkan
hammer test pada setiap titik, baca berapa kuat tekan yang diterima
oleh setiap titik.
5. Kemudian,Masukkan
data kedalam form dan hitung ketahan beton
3.8.5. Perhitungan
Nama Struktur
|
1
|
2
|
3
|
rata-rata
|
Posisi Alat
|
Kolom
|
40
|
40
|
42
|
40.78
|
Posisi A
|
40
|
44
|
40
|
|||
42
|
40
|
39
|
|||
Balok
|
40
|
41
|
46
|
41.667
|
Posisi A
|
42
|
43
|
38
|
|||
41
|
44
|
40
|
|||
Lantai
|
45
|
46
|
47
|
44.7
|
Posisi C
|
45
|
46
|
44
|
|||
44
|
46
|
39
|
BAB IV
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah
dibuat, dapat disimpulkan beton adalah merupakan campuran
dari agregat kasar dan halus,semen,air. Ada beberapa karakteristik yang harus
dipenuhi oleh beton tersebut, maka dari itu pengujian bahan ini dimaksudkan
untuk mengetahui apakah bahan yang akan digunakan dalam pembutan beton sudah memenuhi standar yang
cukup baik..
Ada beberapa pengujian bahan (beton)
yang dilakukan selama praktek pengujian bahan (beton), yaitu ;
1.
Pengujian kadar air
2.
Pengujian berat jenis dan penyerapan
3.
Pengujian berat isi
4.
Pengujian analisa ayak
5.
Pengujian isi formula campuran beton
6.
Pengujian kuat tekan
7.
Pengujian abrasi
8.
Pengujian hammer test
4.2.
Saran
Saran
yang ingin penulis sampaikan adalah
sebaiknya jangan
bermain-main dalam melakukan praktek pengujian bahan agar mendapatkan hasil yang baik,gunakanlah pakain laboratorium yang telah disediakan,perhatikan petunjuk dari
instruktur dan teknisi laboratorim, bekerja samalah dalam
melakukan praktek agar pelaksanaan lebih terasa mudah,catatlah data-data yang
diperlukan untuk dimasukkan pada laporan yang akan dibuat setelah melakukan
praktek
Hasil uji Slump
Proyek : Praktikum
Pekejaan : Balok
Material
Semen ; 6,4 Kg
Pasir : 11,9 Kg
Kerikil : 22,05 Kg
Air : 3,81
No Pemeriksaan
|
Slump ( mm )
|
1
|
7,5
|
2
|
8
|
3
|
10
|
Rata-Rata
|
8,5
|
